Hampir Dua Tahun Berlalu, Gubernur Sherly Hanya Tebar Janji Manis Kepada Keluarga Korban Speed Bela72.

Keluarga Korban Bakal Tempuh Jalur Hukum.

TERNATE, maluttv.com- Masih ingat tragedi ledakan speed boat Bela72 yang menewaskan 6 korban jiwa di Pulau Taliabu, 12 Oktober 2024 silam? Hampir dua tahun berlalu, namun insiden kemanusiaan yang merenggut nyawa big bos Bela Hotel Ternate, Benny Laos saat kampanye Calon Gubernur Maluku Utara ternyata masih menyisahkan kepiluan dan kesedihan bagi keluarga korban.

Baik penumpang cidera fisik maupun pihak keluarga yang ditinggal pergi oleh suaminya, hingga kini tidak mendapat perhatian serius dari Gubernur Sherly Tjoanda selaku istri mendiang BL dan juga sebagai pemilik speed boat mewah tersebut.

Jangankan perhatian atau tanggungjawab, ketemu “Ratu” Tik Tok bagi keluarga korban sangat sulit. Sebagaimana pengakuan, Seni Saleh, istri mendiang Bripka. Hamdani Boamonabot. Sejak kepergian tulang punggung ekonomi keluarga, dia kebingungan menafkahi ketiga orang anaknya yang masih kecil. “Ketemu Ibu Sherly sangat sulit. Saya pernah datangi hotel Bela, tapi ajudannya saja yang ketemu. Kedatangan saya ke sana untuk mempertanyakan nasib kami sebagai keluarga korban. Namun dia (Sherly red) tak mau ketemu dengan berbagai alasan,” kisah ibu anak tiga, warga Jailolo, Halmahera Barat.

Suatu ketika, kata Seni, dia pernah memaksakan diri lagi bertandang ke hotel Bela. Sempat bersua, dan Sherly berjanji akan memberikan pekerjaan proyek kepada ibu anak 3 itu. Untuk keperluan transportasi balik ke Jailolo, perempuan berusia 38 tahun ini diberi amplop oleh ajudan Sherly sebesar Rp. 1 juta.

Selain proyek, Sherly juga pernah berjanji membangun rumah untuk Seni dan ketiga anaknya. Janji ini diutarakan Sherly ketika kunjungan kerjanya di Jailolo, Halbar. Bahkan, kedua anaknya sempat di bawah naik ke atas panggung dan mendapat uang sebesar Rp. 800 ribu.

“Sampai saat ini, semua janjinya palsu. Tidak ada satupun yang dia realisasikan. Janji kasih pekerjaan dan bangun rumah tinggal untuk saya dan anak-anak saya tidak direalisasikannya,” ujar Seni dengan ekspresi kecewa.

Anehnya, korban dan keluarga korban yang meninggal, kata Seni, pernah diundang oleh pihak Kejaksaan untuk melakukan pertemuan damai atau Restorasi Justice bersama Gubernur Sherly Tjoanda dan Kapten Speed Boat Bela 72 yang sudah ditersangkakan oleh kepolisian di Kantor Lurah Kalumata. Pertemuan itu sendiri, dihadiri langsung Kepala Kejaksaan Tinggi Maluku Utara, Sufari, S.H. “Saya dihubungi Opo (orang dekatnya Gubernur red). Saya tidak bisa hadir pertemuan itu karena anak saya sakit. Tapi opo itu bilang datang saja, nanti anak saya akan dirawat di rumah sakit. Setelah pertemuan itu, anak saya tidak dirawat. Bahkan Opo langsung menghilang,” aku Seni kepada wartawan dengan nada sedih.

Janda anak tiga ini juga mengaku ada keganjilan saat pertemuan kala itu. Ini karena, baik korban maupun keluarga korban meninggal disodorkan oleh aparat kejaksaan draf pernyataan damai untuk ditandatangani tanpa diberi kesempatan bagi keluarga korban mentelaah dan membaca isi perjanjian.

Karena merasa dibohongin, perempuan asal Jailolo ini bakal melibatkan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) dan pengacaranya untuk mencari keadilan atas kehilangan nyawa suaminya pada insiden ledakan speed boat Bela72 yang ditengarai milik Sherly Tjoanda.

Suasana kebathinan ini dialami oleh seluruh korban dan anggota keluarga korban. Hanya saja, mereka tidak bisa bersuara lantang karena mereka umumnya adalah pegawai negeri sipil di pemerintahan provinsi Maluku Utara. “Dong suruh pa saya untuk menyuarakannya. Mereka takut, karena ada ikatan dinas. Kalau saya kan tarada. Jadi bebas untuk buka-bukaan. Semua korban bernasib sama, hanya terima janji manis dari Sherly dan tak pernah realisasi,” kesalnya. (wal/mtv)

Penulis: SawaludinEditor: Sawaludin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *