TERNATE, maluttv.com- Aksi kampanye peduli lingkungan melalui Earth Hour 60+ kembali digelar di Benteng Oranje, Sabtu malam (25/4/2026). Kegiatan yang diprakarsai Pemerintah Kota Ternate bersama Harita Group itu diwujudkan dengan pemadaman lampu selama satu jam sebagai simbol komitmen menjaga keberlangsungan bumi.
Aksi Earth Hour bukan sekadar agenda seremonial tahunan, tetapi menjadi bagian dari kampanye global untuk membangun kesadaran masyarakat tentang pentingnya penghematan energi dan pelestarian lingkungan hidup. Melalui pemadaman lampu selama 60 menit, masyarakat diajak memahami bahwa langkah kecil dapat memberi dampak besar bagi keberlanjutan lingkungan.
Sekretaris Daerah Kota Ternate, Rizal Marsaoly, mengatakan Earth Hour menjadi momentum penting untuk memperkuat gerakan kolektif dalam membangun kepedulian masyarakat terhadap isu lingkungan.
Menurutnya, esensi dari Earth Hour bukan hanya mematikan lampu selama satu jam, tetapi mendorong perubahan pola hidup agar lebih bijak dalam menggunakan energi.
“Ini bukan hanya soal lampu yang dipadamkan, tetapi bagaimana kita membangun kesadaran bersama bahwa menjaga bumi bisa dimulai dari kebiasaan sederhana di rumah,” ujarnya.
Rizal menjelaskan, kebiasaan kecil seperti mematikan lampu yang tidak digunakan, mencabut charger telepon genggam, hingga mengurangi penggunaan perangkat elektronik secara berlebihan merupakan langkah sederhana menuju budaya hemat energi.
Ia menilai, perubahan perilaku masyarakat dalam penggunaan energi menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan di tengah meningkatnya kebutuhan listrik dan perkembangan kota.
Selain kampanye Earth Hour, Pemerintah Kota Ternate melalui dinas terkait juga telah menyiapkan berbagai program lanjutan untuk mendukung pelestarian lingkungan, mulai dari gerakan penanaman pohon hingga pengurangan penggunaan plastik sekali pakai.
Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi menjaga kualitas lingkungan perkotaan agar tetap hijau, sehat, dan berkelanjutan di tengah pertumbuhan pembangunan yang terus berkembang.
Rizal juga menegaskan bahwa komitmen Pemerintah Kota Ternate terhadap isu lingkungan telah berjalan sejak beberapa tahun terakhir, termasuk melalui kerja sama dengan United Cities and Local Governments Asia-Pacific dalam program Climate Resilience and Inclusive Cities (CRIC) yang berfokus pada penguatan ketahanan kota terhadap dampak perubahan iklim.
Selain itu, pengembangan ruang terbuka hijau (RTH) juga menjadi perhatian dalam revisi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Ternate. Sejumlah kawasan seperti Taman Nukila, area Skate Park, kawasan sekitar Benteng Oranje, hingga area pemakaman Islam disebut sebagai bagian dari ruang terbuka hijau buatan yang perlu dipertahankan.
Sementara kawasan alami seperti Danau Tolire dan Danau Laguna Ngade dinilai harus mendapat perlindungan serius agar tetap terjaga dari tekanan pembangunan.
Pemkot Ternate berharap pelaksanaan Earth Hour 60+ menjadi pengingat bagi seluruh masyarakat bahwa menjaga bumi tidak selalu harus dimulai dengan langkah besar. Konsistensi dalam kebiasaan sederhana dinilai menjadi kunci menciptakan lingkungan yang lebih hijau, hemat energi, dan tangguh menghadapi perubahan iklim di masa depan. (*)

















