TERNATE, maluttv.com- Pasca nyanyian keluarga korban yang mengeluhkan sikap pemilik speed boat Bela72 yang juga Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda tidak peka dan sering menghindari komitmen dengan berbagai alasan, benang merah kemisteriusan tragedi laka laut yang menelan enam korban jiwa mulai terkuak satu persatu.
Semula Sherly cukup manis. Tuntutan korban dan keluarga korban Bela72 direspon bagus. Namun, dengan berjalannya waktu, aneka janji yang dihembuskan Ratu Tik Tok ke telinga korban hanyalah pepesan kosong. Jangankan merealisasikannya, ketemu big bos hotel Bela Ternate ini pun laksana mencari jarum di dalam tepung, sulit sekali guys!
Untuk menuju titik temunya, Kejaksaan Negeri Kota Ternate kemudian menginisiasi kedua bela pihak, yaitu Sherly sebagai pemilik speed boat berbanrol miliaran rupiah bersama nakhodanya yang berstatus tersangka dipertemukan dengan korban dan keluarga korban meninggal melalui forum Restorative Justice (RJ) di Kantor Kelurahan Kalumata, Ternate Selatan.
Uniknya, RJ yang dihadiri langsung Kepala Kejaksaan Tinggi Maluku Utara yang saat itu masih dijabat Sufari, S.H., tidak membuat Gubernur Maluku Utara empaty dan merealisasikan janjinya kepada korban dan keluarga korban.
Berang dengan sikap tak pedulinya Sherly, sejumlah korban pun mulai mengadukan nasib mereka kepada wartawan. Salah satu korban yang sempat dirawat di rumah sakit Luwuk, Sulteng dan kemudian dirujuk ke Jakarta karena mengalami patah tulang di tangan kirinya mengaku kecewa dengan gaya cueknya Sherly.
Menurut korban, yang enggan namanya diberitakan, sejak peristiwa naas yang menggemparkan publik itu terjadi, Sherly menjadi asing. Bertemu istri mendiang Benny Laos sangat sulit. Padahal korban hanya ingin menagih janji yang pernah dilafaskannya kepada korban dan keluarga korban.
Pria kekar yang menjadi korban tragedi Bela72 di Kota Bobong, Pulau Taliabu, 12 Oktober 2024 lalu tersebut selama menjadi pasien ledakan tidak mendapat perhatiah dari Sherly selaku pemilik speed boat tersebut
“Onco Sherly belum kasih apa-apa pa saya. Pernah ada pejabat provinsi yang kasih duit pa Saya dan beberapa orang teman korban 4 atau 5 orang, masing-masing 5 juta lewat transfer. Namanya Pak. Asrul. 3 juta saya pegang, dan 2 juta saya kirim pa saya pe keluarga. Kalau dari pa onco (Sherly red) tidak pernah. Ketemu saja susah,” aku lelaki itu, korban speed boat Bela72 yang meminta namanya dirahasiakan.
Pengakuan korban ini, melahirkan tanda tanya besar publik. Pasalnya, jika pejabat Pemprov yang disebut korban adalah Asrul Gailea, maka patut dipertanyakan soal kaitan Asrul yang kala itu menjabat Assisten III Bidang Administrasi Umum Setda Pemprov dengan korban serta sumber dananya diperoleh dari mana. Selain itu, apa motivasi dan motif Asrul membantu korban ledakan sementara insiden naas itu terjadi di tengah aktivitas politik.
Asrul Gailea saat dikonfirmasi wartawan lewat Whats App tidak menggubrisnya. Begitu juga Gubernur Sherly Tjoanda. Lebih memilih bungkam meski telah meminta klarifikasi melalui WA nya. (tim/mtv)














