TERNATE, maluttv.com- Selain menyimpan misteri, peristiwa ledakan dan terbakarnya speed boat Bela72 masih menyisahkan masalah sosial. Sejumlah korban dan keluarga korban hingga kini masih menagih janji dari Sherly Tjoanda sebagai pemilik kapal mewah bermesin 1800 PK.
Hampir dua tahun laka laut yang menelan 6 korban jiwa dan 10 penumpang cidera di Pelabuhan Regional Bobong, Pulau Taliabu itu berlalu. Publik mengira masalah ini telah selesai setelah melihat dan mendengar janji Sherly kepada korban dan keluarga korban melalui chanel media pribadinya.
Dalam kontennya, Sherly terlihat respek dan iba terhadap keadaan keluarga korban pasca ditinggal mati orang tercinta, sang tumpuan hidup mereka. Ekspresi dan sikap kepedulian big bos Hotel Bela Ternate kala itu benar-benar menarik simpati serta pujian netizen.
Namun, siapa menyangka, di balik keteduhan air ternyata menyimpan duka nestapa bagi korban dan keluarga korban Bela72.
Visual simpati nan humanis yang dipertontonkan mendiang istri Benny Laos dalam durasi pendek yang tersebar di beranda ternyata tidak seromantis seperti di layar kaca.
Kontennya tidak berbanding lurus dengan realitas. Janji manis yang pernah diikrarkan kepada korban, konon tidak disanggupinya. Janji tinggalah janji, ngonten kebaikan untuk pencitraan tetap berjalan. Toh targetnya algoritma dan menarik simpati publik.
Seperti pengakuan Seni Saleh, mendiang istri Hamdani Buamonabot. Janda anak tiga ini dijanjikan Sherly, pemilik speed boat berupa, modal usaha, biaya hidup ketiga anaknya dan pekerjaan. Sayangnya, janji manis Sherly, yang kini menjadi Gubernur Malut hingga saat ini tidak direalisasi.
“Pokoknya, banyak janjinya. Mulai dijanjikan kasih modal usaha, mau bikin rumah, pekerjaan. Tapi foya saja. Sampe ini tidak dipenuhi. Dan bahkan, saat anak saya sakit, opo (orang kepercayaan Sherly) suruh bawah anak saya ke Ternate untuk dirawat di rumah sakit. Setelah acara RJ, anak saya tidak dirawat. Terpaksa saya balik ke Jailolo,” ungkap Seni.
Pengakuan serupa juga diucapkan dua korban Bela72 yang namanya tidak mau dicantumkan. Kedua korban ini adalah rombongan sekaligus tim pemenangan Benny Laos-Sarbin Sehe. Keduanya mengalami cidera serius di bagian tubuhnya akibat ledakan dan terbakarnya Bela72.
Mereka juga dijanjikan oleh Sherly seperti pekerjaan dan tunjangan hidup lainnya. Sayangnya, hingga berita ini dilansir, janji Sherly tidak kunjung ada. Padahal, pasca tragedi yang menghebohkan itu, kedua korban Bela72 tersebut merawat luka cidera dengan biaya sendiri.
Sialnya lagi, PT. Jasa Raharja tidak bisa mengklaim asuransi kecelakaan dan kematian bagi korban dan ahli waris Bela72 karena kepemilikan kapalnya pribadi bukan armada penumpang umum. Hal ini dikatakan, Kepala Bidang Pelayanan Umum PT. Jasa Rahaja Kota Ternate, Satrio.
“Begitu peristiwa terjadi, kami langsung berkoordinasi dan mendatangi langsung pihak KSOP. Kapal ini milik pribadi. Kembali kepada Undang-undang no 33 Tahun 1964. Bahwa Jasa Raharja hanya menjamin kepada penumpang umum yang kapalnya ada ijin angkutan umum. Kalau speed Bela72 itu milik pribadi, sehingga kami tidak memberikan santunan kepada korbannya,” jelas Satrio.
Nasib korban terjepit diantara ketidakpastian. Di sisi lain, janji Sherly yang diharapkan bisa menjadi pegangan hidup keluarga tidak kunjung direalisasi, sedangkan di lain sisi lembaga asuransi negara tidak bisa mengklaim tunjangan mereka lantaran kepemilikan kapal Bela72 adalah bersifat pribadi.
Sementara itu, Sherly Tjoanda sebagau harus bertanggungjawab karena disinyalir sebagai pemilik kapal, hadiah terindah dari mendiang suaminya ketika dimintai konfirmasi lewat whats app-nya, tidak merespon .(tim/mtv)














