MISTERI BELA72: Dinginnya Sikap Sherly Tjoanda di Tengah Duka Tragis Kehilangan Suaminya Memantik Tanda Tanya Publik.

TERNATE, maluttv.com – Peristiwa ledakan dan kebakaran speed boat Bela72 di Pelabuhan Regional Bobong, Pulau Taliabu, 12 Oktober 2024 lalu yang menelan 6 korban jiwa, diantaranya Calon Gubernur terkuat Benny Laos dan melukai 9 orang penumpang hingga kini masih misterius.

Sebagai pertanggungjawaban hukum, Polda Maluku Utara pada Februari 2025 telah menetapkan Nakhoda kapal mewah berinisial RS alias Rahmat sebagai tersangka kasus ledakan dan kebakaran yang menggemparkan jagat raya. Kasus ini sempat diproses hukum namun kemudian diselesaikan melalui mekanisme Restorative Justice (RJ). Setelah itu, kasus yang dinanti-nantikan masyarakat tersebut hilang bak ditelan bumi.

Mulai dari peristiwa hingga penanganan hukum yang terkesan tertutup, mengundang sejuta tanda tanya. Salah satunya dari Pengamat Politik nasional yang juga aktivis 98, Muslim Arbi.

Setelah menerima kabar dan membaca informasi dari berbagai media, Muslim kemudian menduga ada lubang hitam besar dalam kasus Bela72. “Mengapa Sherly Tjoanda yang menjadi korban luka bakar dan suamianya meninggal dunia di atas kapal, seolah permisif alias terima begitu saja,” heran Muslim.

Bagi Muslim, sebagai manusia normal, kehilangan suami dalam peristiwa ganjil, seorang istri pasti berupaya menuntut keadilan setinggi-tingginya agar ada kepastian hukum kemudian ada efek jera dan rasa keadilan bagi keluarga, terutama bagi anak-anaknya terpenuhi. Namun, ekspektasi berkata lain. Sherly nampak biasa-biasa saja dan bahkan dingin di tengah duka tragis yang misterius.

Kemungkinan besar, kata Muslim, Sherly menampilkan sikap humanis dan sosok pemaaf ahar nakhoda kecil itu selamat dari jeratan hukum. Jika itu benar, sikap Sherly patut diapresiasi. Hanya saja, perspektif publik berkata lain.

Sikap permisif atau terima masalah begitu saja, ternyata menimbulkan spekulatif serta tanda tanya besar masyarakat. Apalagi dalam 40 hari berduka, masih suasana berkabung, mendiang istri BL terlihat berjoget di atas panggung kampanye dirinya selaku Calon Gubernur Maluku Utara menggantikan posisi suaminya. Videonya sempat viral dan masih membekas di ingatan masyarakat.

Ekspresi Sherly yang nampak happy itu mengundang keganjilan sudut pandang publik. “Bagaimana mungkin, seorang yang baru kehilangan suami tersayang dalam insiden tragis, bisa secepatnya itu bergembira di atas panggung,” tanya Muslim, merasa heran.

Di tengah kebuntuan pertanyaan itu, sebuah postingan di Facebook Grup “MALUKU UTARA MEMILIH GUBERNUR” dari akun bernama IndigoLobster5544 meledak dan berharap kotak pandora dalam kemisteriusan tragedi Bela72 itu dituntaskan secara transparan.

Dalam postingan itu, dia tidak menuduh melainkan mencoba menawarkan teori investigasi klasik dalam kriminologi yang diajarkan di semua sekolah intelejen: Cui Bono.

Pada beranda umun, yang dihuni hampir 90 ribu anggota grup, dia kemudian menukilkan bahwa : Kalau ingin mengungkap kasus ini, lihat secara objektif siapa yang paling diuntungkan setelah almarhum meninggal, terutama soal harta, saham, warisan dan pengaruh politik berpindah kepada siapa?.

Selain itu, perbedaan usia pernikahan bisa dijadikan sebagai salah satu fakta yang diperiksa. Dia tidak menuduh, tapi menawarkan pertanyaan vital yang perlu dijawab oleh pihak terkait demi menjawab tabir serta spekulatif publik. “Pertanyaannya, mengapa pelaku belum terungkap? Dengan kekuasaan dan pengaruh yang ada, seharusnya penyelidikan justru harus didorong sampai tuntas dan transparan,” tulis netizen, bernama akun IndigoLobster5544.

Bak gayung bersambut, tulisan diatas diperdalam lagi oleh Muslim Arbi. Dia lalu mengelompokkan perpektif itu kedalam 3 faktor, yaitu pertama harta: Benny Laos adalah konglomerat dengan harta ratusan miliar, saham di berbagai perusahaan tambang dan properti. Ketika meninggal, kemana harta, saham dan warisan itu beralih secara hukum? Siapa yang diuntungkan?

Kedua yaitu Politik: Benny Laos adalah calon Gubernur terkuat. Ketika meninggal, siapa yang mewarisi simpati, air mata dan mesin politik itu? Dan ketiga yaitu faktor hukum: Dengan kekuasaan gubernur yang begitu besar, seharusnya Sherly menjadi orang pertama yang mendorong kasus ini diusut tuntas oleh Bareskrim, KNKT dan Kejaksaan Agung agar transparan dan ada kepastian hukum, bukan malah menerima Restorative Justice Kejari Ternate yang membuat kasus besar yang menelan 6 korban jiwa dan 9 penumpang cidera serius cepat ditutup. (tim/mtv)

Penulis: SawaludinEditor: Sawaludin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *