TERNATE, maluttv.com – PT. Pelindo Regional 4 Ternate, Maluku Utara mencatatkan pertumbuhan operasional positif hingga Juli 2026. Realisasi bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Ternate mencapai 35.800 TEUs, mengalami peningkatan sebesar 3% hingga 5% dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
General Manager PT. Pelindo Regional 4 Ternate, Anwar Pae saat diwawancarai mengatakan, lonjakan aktivitas peti kemas dipicu oleh tingginya kebutuhan logistik masyarakat Maluku Utara yang dipasok dari Surabaya dan Manado. Pasokan tersebut meliputi kebutuhan pokok seperti beras dan ayam potong hingga material daerah pertambangan.
“Peningkatan ini didukung pola Planning and Control serta sistem layanan digital terintegrasi,” kata Anwar Pae di ruang kerjanya, Rabu (09/9).
Anwar juga menjelaskan, penerapan sistem digital dan ruang kontrol terpusat berhasil memangkas waktu bongkar muat secara signifikan. Proses bongkar 500 boks peti kemas yang semula memakan waktu hingga 3 hari, kini dapat diselesaikan dalam waktu 1 hari. Efisiensi ini meningkatkan frekuensi kunjungan kapal dari 4 kali menjadi 5 kali dalam sebulan.Selain itu, Pelindo menerapkan aplikasi Pitos PK (Terminal Operating System) dengan sistem pembayaran di muka.
Langkah ini membuat seluruh aktivitas kepelabuhanan terdeteksi secara transparan sekaligus menekan angka piutang perusahaan.Di sisi lain, Anwar menanggapi isu komoditas terkait dugaan percampuran daging babi dan ayam di dalam peti kemas.
Ia menegaskan bahwa pemeriksaan isi komoditas bukan merupakan wewenang Pelindo.”Pemeriksaan kebutuhan pokok seperti daging ayam dan telur adalah wewenang Balai Karantina, bukan PT Pelindo,” tegas Anwar.
Pelindo hanya bertindak sebagai penyedia jasa kepelabuhanan. Pemeriksaan fisik baru akan dilakukan jika ada koordinasi resmi atau permintaan inspeksi bersama dari pihak Karantina atau Kepolisian. Begitu pula dengan sanksi administratif atau pembekuan izin, sepenuhnya menjadi otoritas Karantina.
Terkait pengembangan infrastruktur, Pelindo saat ini tengah berkoordinasi dengan Pemerintah Kota Ternate untuk membuka akses jalan baru bagi peti kemas ukuran 40 feet. Rencana pembukaan jalur pantai pintu selatan terkendala aturan SKPRL akibat perubahan garis pantai.Sebagai alternatif, Pelindo dan Pemkot Ternate sedang menjajaki pemanfaatan lahan aset Pemkot untuk pembuatan pintu akses baru.
Menurut Anwar, Langkah ini mendapat dukungan penuh dari Wali Kota Ternate dan sedang dikaji melalui mekanisme hibah atau kerja sama investasi.Anwar mengimbau seluruh pihak untuk menjaga kondusivitas operasional Pelabuhan Ternate. (vit/mtv)
Menurutnya, pelabuhan merupakan urat nadi ekonomi daerah, sehingga stagnasi aktivitas di area tersebut akan berdampak langsung pada pemenuhan kebutuhan masyarakat luas.














