TERNATE, maluttv.com – Menjalankan tugas pelayanan kesehatan di wilayah antar pulau Batang Dua, Hiri dan Moti (Bahim), Dinas Kesehatan Kota Ternate, Maluku Utara tetap mengacu prosedur medis. Standar operasi medis menjadi prioritas utama bagi Diskes Kota Ternate ketika menjalankan tugas pokok mereka.
Demikian disampaikan Kepala Dinas Kota Ternate, dr. Fathiyah Suma, M.Kes. Fathiyah juga menampik informasi sepihak tentang janin berusia 7 bulan yang dikandungi Susvita Guraici, Warga Kelurahan Tifure, Kecamatan Batang Dua tidak terselamatkan akibat ketuban pecah karena telat pertolongan medis saat hendak dirujuk ke RSUD Chasan Bosoiri Ternate dengan ambulance laut.
“Penanganan rujukan ibu hamil dari Batang Dua telah sesuai prosedur medis dan berdasarkan standar pelayanan kesehatan yang berlaku,” ungkap Kadis Kesehatan Ternate.
Berdasarkan hasil penelusuran dan autopsi verbal neonatal, pasien memiliki riwayat kehamilan G III P II A 0 dengan usia kehamilan sekitar 28 minggu. Selama masa kehamilan, pasien telah melakukan pemeriksaan kehamilan (ANC) sebanyak 3 kali di Pustu Tifure serta 2 kali pemeriksaan di Bitung, termasuk pemeriksaan USG oleh dokter spesialis.
Ibu rumah tangga berusia 30 tahun ini juga, mendapatkan pemantauan kesehatan rutin serta pemberian tablet tambah darah sesuai standar pelayanan kesehatan.
Pada tanggal 15 Mei 2026, pasien mulai mengeluhkan nyeri perut hingga ke bagian belakang. Selanjutnya pada tanggal 16 Mei 2026 terjadi ketuban merembes. ” Tenaga kesehatan di wilayah kerja saat itu langsung melakukan penanganan awal dan mempersiapkan proses rujukan secara berjenjang dari Pustu Tifure ke Puskesmas Mayau, dan selanjutnya dirujuk ke Kota Ternate menggunakan ambulans laut,” terang Fathiyah seraya mengatakan, pasien tiba di IGD sekitar pukul 14.00 WIT dan langsung mendapatkan penanganan medis lanjutan oleh tim dokter.
Dalam proses observasi dan persalinan, pasien diketahui mengalami kehamilan prematur dengan komplikasi serius, antara lain tali pusat menumbung, presentasi muka, ketuban merembes, serta oligohidramnion yang secara medis merupakan kondisi berisiko tinggi bagi ibu dan bayi. Proses persalinan berlangsung spontan pada pukul 18.35 WIT dengan bayi perempuan lahir dengan berat badan 1.515 gram dan panjang badan 39 cm.
Setelah lahir, bayi dalam kondisi sangat prematur dan langsung mendapatkan penanganan intensif oleh tim medis. Namun, mengingat kondisi klinis yang sangat berat, bayi tidak dapat diselamatkan. Sementara itu, kondisi ibu dalam penanganan tim medis dan terus mendapatkan perawatan sesuai standar pelayanan yang berlaku.
“Ini adalah situasi medis dengan risiko tinggi yang kami tangani secara cepat dan sesuai prosedur. Kami juga terus berupaya memperkuat sistem rujukan, khususnya di wilayah kepulauan,” ujar dr. Fathiyah Suma, M.Kes.
Dinas Kesehatan Kota Ternate juga ikut menyampaikan duka cita mendalam atas kejadian ini.
“Kami memahami bahwa,
pelayanan kesehatan di wilayah kepulauan memiliki tantangan geografis dan keterbatasan akses transportasi rujukan. Namun demikian, tenaga kesehatan di Puskesmas, fasilitas pelayanan di kepulauan hingga rumah sakit rujukan telah berupaya memberikan pelayanan secara cepat, terukur, dan sesuai kewenangan medis,” tandas Fathiyah
Sebagai bentuk komitmen peningkatan pelayanan, Dinas Kesehatan Kota Ternate terus melakukan evaluasi dan penguatan sistem rujukan maternal dan neonatal, termasuk peningkatan koordinasi layanan di wilayah kepulauan, kesiapsiagaan tenaga kesehatan serta optimalisasi sarana transportasi rujukan guna menghadirkan pelayanan kesehatan yang lebih baik, merata dan berkeadilan bagi masyarakat Pulau Batang Dua serta wilayah kepulauan lainnya. (red/mtv)
















