Opini  

Rizal Marsaoly Dalam Pusaran Persepsi Publik.

Dr. Rizal Marsaoly, SE.,MM saat Bersilaturahmi dengan Mantan Gubernur Maluku Utara Dua periode yang juga Tokoh Birokrat, Drs. Hi. Thaib Armaiyn.

TERNATE, maluttv.com- Sosok Rizal Marsaoly kini menjadi objek pembahasan khalayak. Bukan karena Sekretaris Daerah Kota Ternate yang diembannya, tetapi dia dinominasikan dalam bursa Ternate Memilih sebagai salah satu bakal calon Walikota Ternate terkuat 2030 mendatang.

Sejumlah lembaga survei telah memetakan dan memotret sejumlah tokoh potensial dari berbagai kalangan sosial yang diwacanakan maju pada Pilwako nanti. Dari hasil riset ilmiah tersebut, birokrat muda mumpuni ini memiliki peluang besar melanjutkan tongkat kepemimpinan M. Tauhid Soleman. Selain tingkat pengenalannya tinggi, angka presentase kesukaan publik terhadap RM76 di atas rata-rata.

Pada titik ini, saya tertarik untuk menyelami trend dan pergerakan politik Kota Ternate tahun 2030 yang begitu dinamis dalam persepsi publik. Suka atau tidak suka, Rizal merupakan figur menarik, fenomenal dan patut diperhitungkan.

Kurva popularitas dan elektabilitas Rizal sangat dinamis. Pergerakannya lumayan manis dibandingkan dengan persentase pengenalan dan kesukaan publik yang dimiliki kandidat Walkot lainnya, seperti Nasri Abubakar, Nini Bopeng dan Nurlela Syarif

Hasil survei yang dirilis Litbang HalmaheraPost, baru-baru ini cukup menarik. Dimana, popularitas dan liketabilitas RM76 didominasi dari aspek kinerja dan prestasinya sebagai birokrat, bukan karena jabatan Sekda. Artinya masyarakat Kota Ternate melihat Rizal sebagai personality bukan karena jabatan.

Popularitas dan elektabilitas umumnya menjadi barometer bagi kandidat untuk melangkah maju di gelanggang Pilkada. Berbagai cara dilakukan para politisi dan bakal calon kepala daerah untuk mendongkrak nilai pengenalan dan kesukaan publik, diantaranya yaitu pencitraan.

Dalam dunia komunikasi dan marketing, ada dua istilah yang sering terdengar dan digunakan untuk menarik simpati, yakni personal branding dan pencitraan. Kedua istilah ini sekilas mirip karena sama-sama berhubungan dengan persepsi publik, tetapi memiliki perbedaan fundamental yang menentukan seberapa kuat reputasi seseorang bisa bertahan di hatinya masyarakat.

Kedua istilah komunikasi dan marketing inipun saya tarik lalu sematkan kepada Rizal untuk menakar kemurnian isu politik yang terbentuk di ruang publik. Rizal diidentikkan dengan Sekot. Kedua fariabel itu tidak bisa dipisahkan dalam ruang persepsi. Berbicara Sekot Ternate berarti ada seorang Rizal di sana. Keduanya laksana nilai mata uang.

Namun dalam perspektif masyarakat (objektif), umumnya responden tidak melekatkan jabatan Sekda itu kepada seorang Rizal. Popularitas dan liketabilitas RM76 terbentuk oleh kualifikasi personality-nya. Personal branding birokrat gemoy ini lahir dari keaslian melalui konsistensi perilaku, attitude dan kompetensi yang nyata dalam kesehariannya.

Selain familiar dan bersahaja, sosok Rizal di lingkup pemerintahan dikenal sebagai birokrat berprestasi. Tak heran jika dirinya kerap dipercayakan oleh tiga generasi kepemimpinan (Alm. Drs. Syamsir Andili, Alm. Burhan Abdurahman dan M. Tauhid Soleman) untuk memangku jabatan strategis di jajaran Pemerintahan Kota Ternate

Lain halnya dengan pencitraan. Menurut Al Ries dan Jack Trout, pakar branding global, posisi yang tidak otentik bersifat semu akan mudah runtuh ketika kenyataannya tidak sesuai klaim. Popularitasnya terbentuk secara instan tapi tidak punya fondasi opini yang kuat. Begitu ditemukan ketidaksesuaian, kepercayaan publik terhadapnya akan hilang.

Dampaknya berbeda. Personal branding menumbuhkan trust dan loyalitas jangka panjang. Sedangkan pencitraan hanya memunculkan kesan sesaat. Figuritas Rizal, lahir dari karakter asli dan konsistensi, bukan “topeng” yang dipoles demi kebutuhan momentum.

Nama RM76 mencuat dipermukaan dan dimasukkan dalam bursa bakal calon secara alamiah. Namanya diwacanakan bukan karena kemauannya untuk berlaga pada kontestasi Pilwako mendatang. Jati dirinya dimunculkan oleh arus bawah karena kompetensi dan kualifikasi yang dimilikinya. Sejauh ini, pria kelahiran September 1976 ini belum menyatakan diri secara resmi untuk maju Walikota. Dia masih fokus menjalankan tugasnya sebagai Sekretaris Daerah Kota Ternate membantu menunaikan program kepemimpinan M. Tauhid Soleman dan Nasri Abubakar. (bung salud).

Penulis: SawaludinEditor: Sawaludin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *