TERNATE, maluttv.com- Selain emas, Maluku Utara dikenal di pasar internasional sebagai daerah penghasil nikel terbesar dunia. Pertumbuhan ekonomi Maluku Utara pada triwulan III tahun 2025 juga berada di puncak tertinggi skala nasional dengan angka 39,10 persen.
Sayangnya, pertumbuhan ekonomi tersebut tidak berefek positif kepada masyarakat Maluku Utara. Disparitas pembangunan menjadi potret buram di sejumlah daerah. Kemiskinan dan konektivitas jalan penghubung antar wilayah pun masih memperihatinkan.
Seperti yang terlihat di Kecamatan Loloda Utara, Kabupaten Halmahera Utara. Ruas jalan provinsi yang menghubungkan Galela, Halmahera Utara dan Kecamatan Ibu, Halmahera Barat belum tersentuh aspal. Kondisinya masih beralaskan tanah.
Di musim hujan, badan jalannya becek dan berlumpur. Warga di sana, terutama sopir kesulitan melintasinya. Selain mengancam keselamatan penumpang, jalan tersebut merusaki mesin dan body mobil.
Akademisi dan pengacara kondang Maluku Utara asal Loloda, Dr. Hendra Karianga,SH.,MH mendesak Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda untuk segera membangun ruas jalan Kecamatan Loloda Utara karena sudah puluhan tahun termarjinalkan.
“Warga Loloda layak mendapatkan perhatian penuh dari pemerintah, baik kabupaten maupun provinsi. Bupati dan Gubernur jangan memandang sebelah mata. Masyarakat di sana (Loloda) juga butuh keadilan kebijakan. Selama pergantian kepemimpinan, daerah ini tidak pernah tersentuh pembangunan jalan,” ujar Dosen Universitas Khairun Ternate dan Universitas Halmahera.
Mantan Anggota DPRD Provinsi Maluku Utara ini juga menyarankan istri mendiang Benny Laos fokus menyambungkan akses jalan Halut-Halbar demi membuka isolasi sekaligus memperlancarkan akselerasi perekonomian masyarakat kedua daerah tersebut.
Hendra berharap adanya kepekaan Sherly sebagai orang nomor satu di negeri para raja untuk mewujudkan mimpi masyarakat kedua daerah (Halut-Halbar) itu, terutama warga Kecamatan Loloda. Pasalnya, bagi HK, program pembangunan jalan Trans Halmahera yang diwacanakan Sherly-Sarbin bukanlah sebuah kebutuhan yang mendesak. “Dari pada bangun baru, baiknya pemerintah provinsi tuntaskan dulu akses jalan yang sudah ada. Tinggal dikembangkan menjadi jalan beraspal. Apalagi masyarakat Loloda, hingga kini masih terpinggirkan. Jangan semut di seberang lautan kelihatan, gajah di kelopak mata tidak kelihatan. Jadi Gubernur Sherly diminta jangan tutup mata, masyarakat Loloda juga butuh sentuhan yang kongkrit, bukan omon-omon doang,” tegas Hendra. (lud/mtv).


















