Daerah  

Perihatin Nyawa Guru SD Ngajam Melayang Saat Dirujuk Ke Tobelo, Hendra Karianga Layangkan Surat Terbuka Kepada Presiden Prabowo.

Tokoh Masyarakat Malut asal Loloda, Dr. Hendra Karianga. Insert: Perawat yang Sedang Mendampingi Ibu Guru SDN Ngajam, Kec. Loloda Utara Saat, Halmahera Utara, Malut saat dirujuk ke RSUD Tobelo.

HALUT, maluttv.com- Beginilah dampak buruknya ketika infrastruktur suatu wilayah tidak pernah tersentuh program pembangunan. Selain menciptakan kemiskinan, keselamatan warga di sana pun terancam dan bahkan melayang gara-gara fasilitas kesehatannya tidak memadai serta lamanya perjalanan rujukan akibat buruknya ruas jalan darat yang dilintasi.

Seperti yang terjadi di Loloda Utara, Kabupaten Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara. Seorang guru Sekolah Dasar (SD) Negeri Desa Ngajam inisial MP yang ditengarai menderita diare, anemia dan dehidrasi meninggal dunia di tengah perjalanan menuju Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tobelo demi mendapatkan perawatan intensif.

Dramà penyelamatan guru SD Ngajam berusia 68 tahun oleh tim medis Puskesmas Doruma ini beredar luas di media sosial. Dalam video tersebut, terlihat jelas betapa beratnya perjuangan warga di sana. Untuk mendapatkan pelayanan kesehatan, warga dan tim medis harus melintasi jalan berlubang yang dipenuhi lumpur dan ganasnya arus sungai yang membelah ruas jalan.

Jarak tempuh Loloda Utara ke pusat Kota Tobelo, Halut idealnya tiga jam. Namun, karena kondisi infrastruktur yang memperhatinkan, durasi perjalanannya pun menjadi lama, yaitu delapan jam. Akibatnya, nyawa Si “Umar Bakrie” asal Desa Ngajam, Kecamatan Loloda Utara tidak tertolong lagi. Perempuan 68 tahun itu meninggal dunia di tengah perjalanan menuju rumah sakit pemerintah daerah di pusat kota Kabupaten Halmahera Utara.

Peristiwa kemanusiaan ini memantik keperihatinan dari berbagai kalangan masyarakat Maluku Utara. Terutama tokoh masyarakat Loloda yang juga Akademisi dan Advokat, Dr. Hendra Karianga, SH.,MH. Sebelum peristiwa ini terjadi, Hendra sudah mewarning dan mengingatkan pemerintah daerah, baik Halmahera Utara, Halmahera Barat dan Gubernur Maluku Utara agar segera membangun jalan Loloda, jalur provinsi yang menghubungkan dua daerah, yakni Halut dan Halbar.

Pasalnya, sejak kemerdekaan NKRI hingga kini, masyarakat di sana terisolasi karena konektivitas darat yang buruk. Selain akses ekonomi tersumbat, warga kesulitan memperoleh pelayanan kesehatan yang baik dari rumah sakit pemerintah lantaran terkendala jarak tempuh dan kondisi jalan rusak parah. “Sejak kemerdekaan, daerah ini (Loloda) belum pernah ada pembangunan jalan. Dan peristiwa guru SD Desa Ngajam adalah salah satu bukti dari dampak buruknya infrastruktur,” tegas Hendra.

Dosen Hukum Universitas Halmahera dan Universitas Khairun Ternate ini, melalui surat terbuka meminta perhatian serius Presiden Prabowo Subianto dan Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda agar pembangunan infrastruktur, jalan dan jembatan wilayah Loloda yang terdiri dari empat kecamatan, yakni Kecamatan Loloda Utara, Loloda Kepulauan, Loloda Tengah dan Loloda Selatan segera direalisasikan.

Sejauh ini, daerah Loloda, kata Hendra, hanya dipandang sebelah mata oleh pemerintah daerah kabupaten dan provinsi. Meski setiap 5 tahun ada penyusunan RPJMD dan setiap tahun ada RKPD, program pembangunan jalan wilayah Loloda, yaitu ruas jalan yang menghubungkan Halut-Halbar tidak pernah diakomodir.

“Saya, mewakili aspirasi masyarakat Loloda menyampaikan permohonan kepada Bapak Presiden RI agar sekiranya dapat memperhatikan jeritan hati masyarakat di empat kecamatan ini,” tukas Hendra.

Putra Loloda berusia 63 tahun ini juga mengatakan, daerah ini tereksploitasi secara ekonomi dan politik, namun sayangnya diterlantarkan oleh pemangku kekuasaan. Hendra berharap, pemda segera merealisasikan kebutuhan warga agar kedepan tidak ada lagi korban berjatuhan, serta kesejahteraan masyarakat Loloda meningkat. (lud/mtv).

Penulis: SawaludinEditor: Sawaludin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *